Sistem Pendidikan di Mesir

Siapa sih yang ga tau soal universitas-universitas ternama yang ada di Mesir? Khususnya bagi para peminat ilmu agama dan ingin mendalaminya, kuliah di Mesir adalah sebuah cita-cita yang pingin banget dong tercapai? Selain itu juga mesir punya banyak banget peninggalan sejarah para Nabi dan peninggalan-peninggalan sejarah lainnya yang ga akan ternilai harganya juga bakal memberikan kita banyak ilmu dan pengalaman baru dengan mendatanginya langsung loh.

Jangan biarin cita-cita kamu kuliah di Mesir ini hanya akan menjadi mimpi, karena bukan ga mungkin kamu wujudkan jadi kenyataan. Hal pertama yang harus kamu ketahui dan lakukan untuk kuliah di Mesir adalah memilih universitas yang ingin kamu tuju dan mulai mendaftarkan diri di universitas tersebut, dalam proses pendaftaran itu kamu akan dimita untuk melengkapi segala persyaratan  salah satunya adalah mengikuti ujian masuk universitas sesuai waktu dan tempat yang sudah ditentukan, ujian tersebut berupa Ujian Tulis (menggunakan bahasa Arab) meliputi: Bahasa Arab (memahami teks, tata bahasa dan insya’) ditambah Pengetahuan dasar Agama Islam dan Ujian Lisan (menggunakan bahasa Arab) meliputi: Bahasa Arab (percakapan, terjemah dan pemahaman teks) serta hafalan Al-Qur’an minimal 2 juz;. Setelah itu pengumuan sekelsi akan diinfokan kepada masing-masing calon mahasiswa yang telah mendaftar dan mengikuti ujian dan untuk mahasiswa asing yang hendak mendaftar S2 harus hafal 8 juz Al Quran.

Sistem penilaian dalam perkuliahan di Mesir menggunakan GPA skala 4.0 dengan penilaian : A (100 – 90), A- (89 – 80), B (79 – 65), C (64,9 – 50),D (49 – 35), F (34.9 – 0). Seorang profesor mengevaluasi kinerja siswa selama semester melalui (kehadiran, ujian tengah semester, tugas dan ujian akhir semester) GPA seorang mahasiswa tidak boleh kurang dari 2.0 (C) saat kelulusan.

Program S1 di Mesir memiliki masa kuliah selama 4 tahun, kecuali pada fakultas Syari’ah dan Hukum Umum yang mempunyai masa kuliah selama 5 tahun, Masa kuliah pada program S2  hanya 2 tahun, ditambah 2 tahun lagi untuk menulis risalah (thesis) untuk meraih gelar MA (Master of Art) dan Pada program S3 tidak ada masa kuliah lagi, jadi langsung menulis disertasi untuk meraih gelar doktor.

Yuk Persiapkan kesehatan kita, bahasa Arab dalam komunikasi dan baca kitabnya, hafalan Al-Quran minimal 8 juz. Pelajari juga tentang budaya di Mesir, biar nantinya kita ga kaget dengan budaya dan cuaca di Mesir. Setibanya di Mesir kita harus mempelajari lagi  budaya, bahasa, cuaca mesir, dan cari teman dari Indonesia ataupun Mesir yang baik dan semangat selain itu setelah mulai kuliah disana juga kita harus punya target yang jelas dan lakukan dengan istiqomah.

photo : en.wataninet.com



Sistem Pendidikan di Jerman

Negara dengan keindahan alamnya dan kualitas pendidikan yang gak perlu diragukan lagi ini tentu saja bakal membuat banyak orang punya keinginan buat kuliah di Jerman. Selain itu kuliah S1 di Universitas Negeri di Jerman BEBAS BIAYA loh alias GRATIS, baik untuk warga lokal ataupun asing dan lagi S2 di sini GRATIS biaya pendidikan loh hanya dikenakan biaya kontribusi per semester sebesar €150 – €250 saja, kebayang ga sih dengan biaya segitu kita bisa kuliah di Jerman dengan pendidikan yang tinggi dan kualitas pendidikan yang ga main-main. Yuk cari tau gimana sih caranya kuliah di Jerman?

Hal pertama yang bakalan kita hadapi saat hendak kuliah di Jerman yaitu seleksi masuk Universitas, caranya adalah melakukan pendaftaran terlebih dahulu, saat mendaftar kita bakalan dikasih tau apa aja persyaratan yang harus dilengkapi, salah satunya adalah persyaratan melakukan test ujian masuk Universitas, nah tes nya ini bisa bermacam-macam sesuai program studi dan apa yang diminta oleh Universitas, mulai dari TOEFL/IELTS, TestDaF, DSH, GMAT, GRE dan yang paling unik di Jerman ada Aptitude Test atau Tes Bakat yaitu : TestAS (Test for Academic Studies) adalah tes yang menilai siswa dari negara-negara non-EU untuk menentukan kemungkinan siswa tersebut akan berhasil menyelesaikan program gelar mereka dalam suatu universitas di Jerman. Setelah semuanya lengkap dan dilalui kita akan diminta untuk wawancara dengan pihak universitas, untuk calon mahasiswa yang berada di luar kota/negeri biasanya universitas mengadakan wawancaranya melalui telfon atau video call, nah setelah wawancara semua data kita bakalan diseleksi dengan calon-calon mahasiswa lainnya terus hasilnya bakalan dikasih tau oleh pihak universitas secara individu.

Sistem penilaian GPA di Jerman agak sedikit berbeda dengan Negara-negara lainnya, Jerman memiliki skala penilaian 5.0 dengan 1.0 adalah nilai tertinggi dan 5.0 adalah nilai terendah, penilaiannya terdiri dari : Sehr Gut (1.0 – 1.3), Gut (1.7 – 2.3), befriedigend (2.7 – 3.3) ausreichend (3.7 – 4.0), mangelhaft (5.0).

Kuliah di Jerman memiliki durasi yang hampir sama dengan di Indonesia, program studi S1 dibutuhkan waktu 3 – 4 tahun untuk lulus dan khusus jurusan kedokteran masa studinya bisa mencapai 6 – 8 tahun, program studi S2 berlangsung selama 2 tahun dan program S3 bervariasi tergantung program studi yang diambil namun standarnya adalah 3 tahun.

Hidup di Jerman pasti menjadi kesenangan dan pengalaman tersendiri, memiliki pendidikan bersubsidi dengan kualitas kelas dunia, masa depan yang menjanjikan di dunia kerja, segala tunjangan fasilitas kehidupan yang memadai, bentuk-bentuk hiburan yang tak terhitung dan segala kegiatan menarik lainnya bisa kita dapetin di Jerman, jadi tunggu apa lagi?? Yuk mulai sekarang kita semangat mempersiapkan masa depan yang lebih cerah~

photo : esmera-project.eu

Sistem Pendidikan di Jepang

Siapa yang tidak tau dengan Negara yang terkenal akan keindahan bunga sakuranya ini? Jepang, adalah Negara yang memiliki penemuan-penemuan unik dan kedisiplinan warga negaranya yang terkenal ke seluruh dunia ini memang patut dijadikan contoh, tidak heran banyak orang yang ingin mendapatkan ilmu lebih banyak lagi di Jepang, salah satunya dengan berkuliah disana. Yuk kita cari tau lebih dalam gimana sih caranya bisa kuliah di Jepang

Banyak yang belum tau dan belum paham prosedur apa dulu sih yang harus kita lakukan buat kuliah di Jepang. Seperti kegiatan-kegiatan untuk menjadi anggota suatu organisasi lainnya, menjadi mahasiswa di Universitas Jepang juga memiliki tahap awal yang sama yaitu pendaftaran, dalam format pendaftaran tersebut biasanya akan tertulis persyaratan apa saja yang harus terpenuhi salah satunya yaitu persyaratan hasil ujian masuk universitas, nah ujian masuk universitas itu sendiri bisa berbeda-beda di setiap universitas dan program studi, mulai dari EJU (Examination for Japanese University Admission for International Students), JLPT (Japanese Language Proficiency Test), TOEFL, Ujian tertulis, Skripsi Pendek (menggunakan bahasa Jepang), dsb. Setelah semua data persyaratan kita terpenuhi maka kita akan dipanggil untuk wawancara dengan pihak Universitas baik via telefon, video call ataupun datang langsung, lalu kita akan diseleksi dengan calon mahasiswa lainnya dan terakhir hasil diterima atau tidaknya kita di Universitas tersebut akan diberitaukan langsung oleh pihak Universitas secara individu kepada masing-masing calon mahasiswa.

Beberapa Universitas di Jepang memiliki penilaian dengan skala GPA 3.00 namun Kebanyakan Universitas di Jepang telah memiliki penilaian GPA dengan skala 4.00 dengan sistem penilaian : yū (優) / A (100 – 80), ryō (良) / B (79 – 70), ka (可) / C (69 – 60), nin (認) / D (59 – 50), fuka (不可) / F (49 – 0). Penilaian GPA sendiri terdiri dari total penilaian : Nilai Tes + Nilai Kehadiran + Nilai Tugas. Untuk universitas, kelulusan membutuhkan minimal 124 sks dan jumlah kredit yang diperlukan untuk setiap universitas. Untuk mendapatkan 1 sks, diperlukan 45 jam waktu belajar, termasuk waktu persiapan dan mengulas pertemuan sebelumnya.

Durasi kuliah yang akan kita lalui di Jepang dari awal hingga lulus hampir sama dengan durasi kuliah di Indonesia, yaitu : Program S1 selama 4 tahun, Program S2 selama 2 tahun dan Program S3 selama 3 tahun, namun semuanya kembali lagi kepada ketentuan program apa yang dipilih dan komitmen dari masing-masing Individu.

Kuliah dimanapun mewajibkan kita buat bersungguh sungguh dalam menjalankannya biar ga buang-buang waktu dan biaya kan, apalagi di Jepang, mengingat kedisiplinan warga negaranya yang tinggi bakal bikin kita harus extra bersungguh sungguh untuk bersaing dalam prestasi di Universitas, tapi percaya deh usaha ga akan menghianati hasil, jadi yuk semangat terus!

photo : en.wikipedia.org

Sistem Pendidikan di Cina

Pesaing utama dalam dunia industri, ekonomi dan pendidikan bagi seluruh Negara di dunia Negara mana lagi kalau bukan Negara Cina? Negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dan terbesar kedua setelah Amerika ini juga memiliki pendidikan tinggi kelas dunia dengan biaya kuliah yang terhitung murah loh dibanding dengan Negara lainnya seperti Amerika, Australia, Korea, Jepang dan lain sebagainya. Kuliah di Cina sendiri dapat memberikan kita banyak ilmu yang berguna, khususnya kalau kita ngambil jurusan Ekonomi. Tertarik kuliah di Cina?

Tentunya ga sedikit dong orang-orang yang mau kuliah di Cina, hal itu juga menjadikan kita punya banyak pesaing buat masuk ke Universitas di Cina, dengan banyaknya calon mahasiswa yang daftar maka universitas juga harus mengadakan seleksi calon mahasiswa nantinya. Tahap awal yang harus kita siapkan dalam proses ini adalah pendaftaran, iya mendaftar untuk menjadi mahasiswa di universitas Cina yang kita tuju, di dalam format pendaftaran yang akan kita isi biasanya akan ada persyaratan dan kelengkapan apa aja yang harus kita penuhi, termasuk HSK (minimal HSK 3) atau Test Kemampuan Berbahasa Mandarin (khusus untuk program studi pengantar bahasa Mandarin), TOEFL/IELTS, dan lain sebagainya.

Sistem penilaian perkuliahan di Cina sendiri menggunakan sistem yang sama seperti di Indonesia, yaitu GPA  skala 4.0 dengan penilaian : A (100 – 90), B (89 – 75), C (74 – 60), D (50 – 59) dan F (50 – 0).

Durasi perkuliahan di Cina sendiri tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, yaitu : program S1 selama 4 – 5 tahun, program S2 selama 2 – 3 tahun dan program S3 selama 3 – 4 tahun, namun semuanya tergantung program studi apa yang diambil dan kemampuan dari masing-masing individu.

Akan banyak ilmu dan budaya baru yang kamu dapatkan dengan kuliah di luar negeri termasuk di Cina, selain itu kamu juga akan terbiasa menggunakan bahasa Mandarin yang disebut dengan bahasa tersulit di dunia namun paling banyak digunakan pula di dunia, tapi percaya deh semua kesulitan itu bakal ngasih kamu kemudahan nantinya, termasuk dalam dunia kerja.

photo : smapse.com

Sistem Pendidikan di Amerika

Amerika Serikat atau yang sering kita sebut dengan Negeri Paman Sam ini terkenal karena kemajuan negaranya dalam berbagai bidang salah satunya pendidikan, maka ga heran kalau banyak orang yang pengen ngelanjutin kuliahnya di Negeri Paman Sam ini, mungkin kamu termasuk orangnya??. Di sini kita pengen ngasih tau lebih lanjut nih gimana tata cara mendaftar dan sistem belajar di AS itu diterapkan, yuk langsung aja

                Hal yang paling mendasar banget dalam sebuah proses masuk ke Universitas adalah pendaftaran, biasanya setiap Universitas udah punya format pendaftarannya masing-masing nih termasuk apa saja persyaratan yang harus dilengkapi untuk tahap seleksi, salah satu persyaratan yang paling menentukan apakah kamu bisa diterima di universitas tersebut atau tidak adalah hasil test penerimaan, test nya bisa berbagai macam mulai dari test SAT, ACT ataupun TOEFL dan IELTS, tergantung apa yang diminta dari masing-masing Universitas dan setiap Universitas atau Program yang kamu ambil akan memiliki persyaratan skor yang berbeda.

                Sistem Penilaian untuk perkuliahan di Amerika sendiri menggunakan sistem GPA (Grade Point Average) yang sama dengan sistem IPK di Indonesia dengan skala 4.0 dengan sistem penilaian A (4.0 – 3.7), B (3.3 – 2.7), C (2.3 – 1.7) ,D (1.3 – 0.7)  dan F (0) nilai-nilai tersebut diambil dari penilaian partisipasi kelas dan diskusi atau seminar, mid test, laporan penelitian di laboratorium, kuis (ujian singkat), dan ujian final (UAS).

                Durasi kuliah di Amerika sendiri memiliki durasi berbeda-beda yaitu s1 selama 4 tahun, s2 selama 2 tahun dan s3 selama 3 tahun (sebagian besar Universitas di US bahkan menetapkan 5 tahun: 2 tahun kuliah dan 3 tahun penelitian).

                Kuliah di manapun mengharuskan kamu untuk sungguh-sungguh dalam menjalankannya, apalagi jika tidak dbiayai oleh beasiswa karena biaya kuliah apalagi di Amerika Serikat tentu saja ga murah dan dengan cara belajar sungguh-sunggu sejak awal akan membuat kamu dapat menyelesaikan studi dengan tepat waktu.

photo : aseanop.com

Sistem Pendidikan di Korea Selatan

SISTEM PENDIDIKAN DI KOREA SELATAN

Kuliah di Korea Selatan telah menjadi cita-cita untuk sebagian orang atau mungkin kamu juga adalah salah satu dari banyaknya orang yang ingin berkuliah di Korea??. Sama halnya dengan kuliah di Indonesia, kuliah di Korea juga membutuhkan persiapan yang matang, nah sudah sejauh mana nih persiapan dan pengetahuanmu soal kuliah di Korea Selatan?? Yuk kita bahas lebih lanjut lagi

            Hal pertama yang akan kita hadapi adalah seleksi masuk Universitas yang kita tuju. Setiap Universitas biasanya sudah menyediakan format pendaftaran tersendiri bagi para calon mahasiswa internasional untuk dilengkapi bersamaan dengan melampirkan STTB, Transkrip Nilai, Bukti dapat berbahasa Korea (TOPIK) atau bukti dapat berbahasa Inggris (TOEFL/IELTS), segala bentuk kelengkapan dokumen yang menunjukan kewarganegaraan (KTP, KK, Paspor, dll), study plan, surat rekomendasi, referensi konselor dan bukti kesanggupan finansial. Setelah semua data yang diperlukan telah lengkap, maka Universitas akan memanggil para calon mahasiswanya untuk melangsungkan wawancara, baik melalui telfon, video call ataupun secara langsung. Tahap terakhir setelah wawancara selesai, Universitas akan mengirimkan hasil wawancara tersebut dan member tahu apakah kita lulus atau gagal kepada para calon mahasiswanya.

            Sistem penilaian untuk proses belajar mengajar di Korea Sendiri hampir sama dengan Negara-negara lainnya yaitu menggunakan sistem GPA (Grade Point Average) atau biasa kita sebut dengan IPK. Bedanya dengan di Indonesia IPK hanya memiliki skala 4,00 sedangkan di Korea GPA memiliki skala penilaian 4,50.

            Durasi perkuliahannya pun berbeda-beda, mulai dari program s1 yang berdurasi 4 tahun (khusus untuk program kedokteran berdurasi 6 tahun) dan program s2 serta s3 yang berdurasi 2 tahun (tergantung program yang diambil).

Ketika kamu mau daftar kuliah ke Korea, daftarlah seawal mungkin. Agar langsung terdata. Karena persaingan masuknya cukup sulit. Namun, untuk bisa adaptasi dengan sistem kuliah di Korea itu nggak sulit-sulit amat, kok. Semua bisa karena terbiasa. Jadi jangan tunda-tunda lagi persiapan kamu untuk kuliah di Korea ya ^^

photo : expat.com

What Can Communities Do to Help Themselves?

[pl_row]
[pl_col col=12]
[pl_text]

Organizations today are in constant flux. Industries are consolidating, new business models are emerging, new technologies are being developed, and consumer behaviors are evolving. For executives, the ever-increasing pace of change can be especially demanding. It forces them to understand and quickly respond to big shifts in the way companies operate and how work must get done. In the words of Arie de Geus, a business theorist, The ability to learn faster than your competitors may be the only sustainable competitive advantage.

I’m not talking about relaxed armchair or even structured classroom learning. I’m talking about resisting the bias against doing new things, scanning the horizon for growth opportunities, and pushing yourself to acquire radically different capabilities—while still performing your job. That requires a willingness to experiment and become a novice again and again: an extremely discomforting notion for most of us.

Share What You’ve Learnt

Over decades of coaching and consulting to thousands of executives in a variety of industries, however, my colleagues and I have come across people who succeed at this kind of learning. We’ve identified four attributes they have in spades: aspiration, self-awareness, curiosity, and vulnerability. They truly want to understand and master new skills; they see themselves very clearly; they constantly think of and ask good questions; and they tolerate their own mistakes as they move up the learning curve.

Of course, these things come more naturally to some people than to others. But, drawing on research in psychology and management as well as our work with clients, we have identified some fairly simple mental tools anyone can develop to boost all four attributes—even those that are often considered fixed (aspiration, curiosity, and vulnerability).

Focusing on benefits, not challenges, is a good way to increase your aspiration. There are no secrets to success.

– james jackson

It’s easy to see aspiration as either there or not: You want to learn a new skill or you don’t; you have ambition and motivation or you lack them. But great learners can raise their aspiration level—and that’s key, because everyone is guilty of sometimes resisting development that is critical to success.

Make Yourself Accountable

Over the past decade or so, most leaders have grown familiar with the concept of self-awareness. They understand that they need to solicit feedback and recognize how others see them. But when it comes to the need for learning, our assessments of ourselves—what we know and don’t know, skills we have and don’t have—can still be woefully inaccurate. In one study conducted by David Dunning, a Cornell University psychologist, 94% of college professors reported that they were doing “above average work.”

Let’s say your boss has told you that your team isn’t strong enough and that you need to get better at assessing and developing talent. Your initial reaction might be something like What? She’s wrong. My team is strong. Most of us respond defensively to that sort of criticism. But as soon as you recognize what you’re thinking, ask yourself, Is that accurate? What facts do I have to support it? In the process of reflection you may discover that you’re wrong and your boss is right, or that the truth lies somewhere in between—you cover for some of your reports by doing things yourself, and one of them is inconsistent in meeting deadlines; however, two others are stars.


[/pl_text]
[/pl_col]
[/pl_row]

Helping Great Answers Stand Out In Discussion Forums

Organizations today are in constant flux. Industries are consolidating, new business models are emerging, new technologies are being developed, and consumer behaviors are evolving. For executives, the ever-increasing pace of change can be especially demanding. It forces them to understand and quickly respond to big shifts in the way companies operate and how work must get done. In the words of Arie de Geus, a business theorist, The ability to learn faster than your competitors may be the only sustainable competitive advantage.

I’m not talking about relaxed armchair or even structured classroom learning. I’m talking about resisting the bias against doing new things, scanning the horizon for growth opportunities, and pushing yourself to acquire radically different capabilities—while still performing your job. That requires a willingness to experiment and become a novice again and again: an extremely discomforting notion for most of us.

Share What You’ve Learnt

Over decades of coaching and consulting to thousands of executives in a variety of industries, however, my colleagues and I have come across people who succeed at this kind of learning. We’ve identified four attributes they have in spades: aspiration, self-awareness, curiosity, and vulnerability. They truly want to understand and master new skills; they see themselves very clearly; they constantly think of and ask good questions; and they tolerate their own mistakes as they move up the learning curve.

Of course, these things come more naturally to some people than to others. But, drawing on research in psychology and management as well as our work with clients, we have identified some fairly simple mental tools anyone can develop to boost all four attributes—even those that are often considered fixed (aspiration, curiosity, and vulnerability).

Focusing on benefits, not challenges, is a good way to increase your aspiration. There are no secrets to success.

– james jackson

It’s easy to see aspiration as either there or not: You want to learn a new skill or you don’t; you have ambition and motivation or you lack them. But great learners can raise their aspiration level—and that’s key, because everyone is guilty of sometimes resisting development that is critical to success.

Make Yourself Accountable

Over the past decade or so, most leaders have grown familiar with the concept of self-awareness. They understand that they need to solicit feedback and recognize how others see them. But when it comes to the need for learning, our assessments of ourselves—what we know and don’t know, skills we have and don’t have—can still be woefully inaccurate. In one study conducted by David Dunning, a Cornell University psychologist, 94% of college professors reported that they were doing “above average work.”

Let’s say your boss has told you that your team isn’t strong enough and that you need to get better at assessing and developing talent. Your initial reaction might be something like What? She’s wrong. My team is strong. Most of us respond defensively to that sort of criticism. But as soon as you recognize what you’re thinking, ask yourself, Is that accurate? What facts do I have to support it? In the process of reflection you may discover that you’re wrong and your boss is right, or that the truth lies somewhere in between—you cover for some of your reports by doing things yourself, and one of them is inconsistent in meeting deadlines; however, two others are stars.

How to Craft the Perfect UI/UX Design

Organizations today are in constant flux. Industries are consolidating, new business models are emerging, new technologies are being developed, and consumer behaviors are evolving. For executives, the ever-increasing pace of change can be especially demanding. It forces them to understand and quickly respond to big shifts in the way companies operate and how work must get done. In the words of Arie de Geus, a business theorist, The ability to learn faster than your competitors may be the only sustainable competitive advantage.

I’m not talking about relaxed armchair or even structured classroom learning. I’m talking about resisting the bias against doing new things, scanning the horizon for growth opportunities, and pushing yourself to acquire radically different capabilities—while still performing your job. That requires a willingness to experiment and become a novice again and again: an extremely discomforting notion for most of us.

Share What You’ve Learnt

Over decades of coaching and consulting to thousands of executives in a variety of industries, however, my colleagues and I have come across people who succeed at this kind of learning. We’ve identified four attributes they have in spades: aspiration, self-awareness, curiosity, and vulnerability. They truly want to understand and master new skills; they see themselves very clearly; they constantly think of and ask good questions; and they tolerate their own mistakes as they move up the learning curve.

Of course, these things come more naturally to some people than to others. But, drawing on research in psychology and management as well as our work with clients, we have identified some fairly simple mental tools anyone can develop to boost all four attributes—even those that are often considered fixed (aspiration, curiosity, and vulnerability).

Focusing on benefits, not challenges, is a good way to increase your aspiration. There are no secrets to success.

– james jackson

It’s easy to see aspiration as either there or not: You want to learn a new skill or you don’t; you have ambition and motivation or you lack them. But great learners can raise their aspiration level—and that’s key, because everyone is guilty of sometimes resisting development that is critical to success.

Make Yourself Accountable

Over the past decade or so, most leaders have grown familiar with the concept of self-awareness. They understand that they need to solicit feedback and recognize how others see them. But when it comes to the need for learning, our assessments of ourselves—what we know and don’t know, skills we have and don’t have—can still be woefully inaccurate. In one study conducted by David Dunning, a Cornell University psychologist, 94% of college professors reported that they were doing “above average work.”

Let’s say your boss has told you that your team isn’t strong enough and that you need to get better at assessing and developing talent. Your initial reaction might be something like What? She’s wrong. My team is strong. Most of us respond defensively to that sort of criticism. But as soon as you recognize what you’re thinking, ask yourself, Is that accurate? What facts do I have to support it? In the process of reflection you may discover that you’re wrong and your boss is right, or that the truth lies somewhere in between—you cover for some of your reports by doing things yourself, and one of them is inconsistent in meeting deadlines; however, two others are stars.

Famous Fictional Examples of Management Styles

Organizations today are in constant flux. Industries are consolidating, new business models are emerging, new technologies are being developed, and consumer behaviors are evolving. For executives, the ever-increasing pace of change can be especially demanding. It forces them to understand and quickly respond to big shifts in the way companies operate and how work must get done. In the words of Arie de Geus, a business theorist, The ability to learn faster than your competitors may be the only sustainable competitive advantage.

I’m not talking about relaxed armchair or even structured classroom learning. I’m talking about resisting the bias against doing new things, scanning the horizon for growth opportunities, and pushing yourself to acquire radically different capabilities—while still performing your job. That requires a willingness to experiment and become a novice again and again: an extremely discomforting notion for most of us.

Share What You’ve Learnt

Over decades of coaching and consulting to thousands of executives in a variety of industries, however, my colleagues and I have come across people who succeed at this kind of learning. We’ve identified four attributes they have in spades: aspiration, self-awareness, curiosity, and vulnerability. They truly want to understand and master new skills; they see themselves very clearly; they constantly think of and ask good questions; and they tolerate their own mistakes as they move up the learning curve.

Of course, these things come more naturally to some people than to others. But, drawing on research in psychology and management as well as our work with clients, we have identified some fairly simple mental tools anyone can develop to boost all four attributes—even those that are often considered fixed (aspiration, curiosity, and vulnerability).

Focusing on benefits, not challenges, is a good way to increase your aspiration. There are no secrets to success.

– james jackson

It’s easy to see aspiration as either there or not: You want to learn a new skill or you don’t; you have ambition and motivation or you lack them. But great learners can raise their aspiration level—and that’s key, because everyone is guilty of sometimes resisting development that is critical to success.

Make Yourself Accountable

Over the past decade or so, most leaders have grown familiar with the concept of self-awareness. They understand that they need to solicit feedback and recognize how others see them. But when it comes to the need for learning, our assessments of ourselves—what we know and don’t know, skills we have and don’t have—can still be woefully inaccurate. In one study conducted by David Dunning, a Cornell University psychologist, 94% of college professors reported that they were doing “above average work.”

Let’s say your boss has told you that your team isn’t strong enough and that you need to get better at assessing and developing talent. Your initial reaction might be something like What? She’s wrong. My team is strong. Most of us respond defensively to that sort of criticism. But as soon as you recognize what you’re thinking, ask yourself, Is that accurate? What facts do I have to support it? In the process of reflection you may discover that you’re wrong and your boss is right, or that the truth lies somewhere in between—you cover for some of your reports by doing things yourself, and one of them is inconsistent in meeting deadlines; however, two others are stars.

#iguru_carousel_617015ef997d5 .slick-arrow {border-color: #2900b2;background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015ef997d5 .slick-arrow:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015ef997d5 .slick-arrow:hover {background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015ef997d5 .slick-arrow:hover:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015ef997d5 .slick-arrow:hover:before {opacity: 0;}#iguru_carousel_617015efa0198 .slick-arrow {border-color: #2900b2;background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015efa0198 .slick-arrow:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015efa0198 .slick-arrow:hover {background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015efa0198 .slick-arrow:hover:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015efa0198 .slick-arrow:hover:before {opacity: 0;}#iguru_carousel_617015efa5e46 .slick-arrow {border-color: #2900b2;background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015efa5e46 .slick-arrow:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015efa5e46 .slick-arrow:hover {background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015efa5e46 .slick-arrow:hover:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015efa5e46 .slick-arrow:hover:before {opacity: 0;}#iguru_carousel_617015efaba63 .slick-arrow {border-color: #2900b2;background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015efaba63 .slick-arrow:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015efaba63 .slick-arrow:hover {background-color: #e02cb6;box-shadow: 0px 0px 0px 0px rgba(0,0,0,0);}#iguru_carousel_617015efaba63 .slick-arrow:hover:after {color: #ffffff;}#iguru_carousel_617015efaba63 .slick-arrow:hover:before {opacity: 0;}
×

Hello!

Click one of our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to info@gate-la.com

× How can I help you?